Sabtu, 15 Februari 2020

Guru : Suka Duka Hingga Cinta yang Tak Punah



Guru : Suka Duka Hingga Cinta yang Tak Punah - Sebuah profesi yang sering tercantum dalam kolom cita-cita setiap anak, ya itu dia “guru”. Gelar “Pahlawan” melekat pada raga seorang guru, siapa yang tidak pernah mendengar semboyan “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Namun apakah kita selalu mengingat atas “jasa” yang tanpa ada tanda itu? 

Didalam sebuah kesempatan harian kompas mewawancarai mentri pendidikan Anies Baswedan "Kita semua tahu bahwa kita semua yang ada di sini membawa jasa guru. Saya tidak setuju guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa karena setiap hari kita membawa tanda (jasa) itu," kata Anies di Jakarta, Sabtu (22/11/2014) dalam acara bertajuk "Indonesia WOW, Provinsi WOW". 

Begitulah ungkapan beliau saat diwawancarai. Beliau menuturkan tidak sependapat dengan semboyan yang pernah terngiang di telinga kita bahwa guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Alangkah mulianya seorang guru memberikan ilmu yang dimilikinya tanpa tanda pamrih.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat 350.180   guru di Indonesia pada tahun ajaran 2014/2015. Hitungan besar, jumlah yang tidak sedikit bagi sebuah profesi tidak memandang latar belakang lulusan dan gelar, tidak memandang status kepegawaian, seorang guru tetap mempunyai pengaruh besar dalam sebagian aspek dari kehidupan yang kita jalan saat ini. Ilmu yang diberikan seorang guru tentulah diharapkan dapat bermanfaat bagi segala kalangan, situasi dan kondisi dan dapat diajarkan secara berkesinambungan. 


Guru Senam bersama Peserta Didik (dok : Kelas Inspirasi Pontianak)


Siapakah sosok guru yang paling anda ingat saat ini ? Pernahkah mendengar atau membaca sebuah kalimat yang bertajuk “orang tuamu adalah guru pertama dan guru sepanjang masa”, didalam pepatah arab menyebut orang tua khususnya seorang ibu merupakan al madrasatul ula atau sekolah/madrasah pertama kali kita mengemban ilmu. Dari dalam kandungan ibu kita sudah memberikan secercah ilmu melalui komunikasi pertama serta sikap dan perilaku ibu kita selama mengandung. Sebagai orang pertama yang menjadi role model dari seorang anak, maka orang tua wajib memberikan contoh dan juga mendidik anaknya dengan baik dan benar yang nantinya akan menirukan apa yang dilakukan ayah ibunya. Dalam mendidik anak, pada dasarnya ada banyak peran dari orangtua, yang akan mempengaruhi pola pikir dan juga perilaku dari seorang anak. 

Dewasa ini, kita dapat melihat banyak kasus terhadap seorang guru yang merupakan pencetak generasi bangsa. Sering terjadi tindak kekerasan yang dilakukan orang tua siswa. Selain kasus kekerasan, banyak juga guru yang dilaporkan orang tua siswa ke pihak berwajib dan terjerat kasus hukum. Dikarenakan mencubit siswa yang tidak disiplin, misalnya, orang tua siswa melaporkan sang guru ke polisi dan kasusnya berakhir di pengadilan. Fenomena ini juga tentu sangat mengkhawatirkan dan menodai dunia pendidikan Indonesia. Beda zaman beda perlakuan, begitu pula didalam dunia pendidikan tuntutan zaman membuat guru harus mampu mengikuti perkembangan didalamnya secara perlahan namun memaksa melihat kondisi yang ada saat ini.

Mendidik para siswa tentu bukan persoalan mudah. Ada saatnya bagi guru untuk menerapkan sanksi pada siswa yang melanggar aturan. Semua diberlakukan untuk mendidik para siswanya untuk disiplin. Dalam penerapan sanksi, para guru juga tidak boleh melakukannya dengan kekerasan yang berlebihan. Harus disepakati antara orang tua siswa lewat komite sekolah dan guru, soal jenis sanksi yang boleh diterapkan. Namun apakah setiap kesepakatan di tepati? Mulai adanya Konvensi Hak Anak dan UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak membuat guru tidak lagi dapat melakukan metode pengajaran yang memasukan tindak kekerasan. Anak memiliki kewajiban untuk menghormati orang yang lebih tua darinya, pada faktanya anak sekarang lebih berani melawan dan mengeluarkan kata kata kasar hingga pemukulan terhadap gurunya sendiri. Sebuah kemunduran dimana sosok guru kurang dihormati.

Tawaran solusi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof. Muhadjir Effendy agar peran komite sekolah sebagai wadah orang tua dan sekolah kian diperkuat perlu dilakukan di setiap sekolah. Melalui wadah inilah, kata Mendikbud, orang tua siswa bisa membicarakan berbagai permasalahan, termasuk membangun lingkungan sehat di sekolah.


Inspirator sedang mempraktikkan keahliannya (dok : Kelas Inspirasi Pontianak)


Masihkah ada label pahlawan pada diri seorang guru ? Sebagian kalangan masih berupaya mempertahankan label ini, dan menganggap seorang guru dapat mengubah arah dan tujuan bangsa yang dimana presentasi terbesar seorang manusia terdidik dari proses pembelajaran secara formal. Tak jarang momen ingatan membuat rasa rindu terhadap sosok guru favorit di saat kita mengampu ilmu, setidaknya kita memberikan sebuah perlakuan yang dapat menyenangkan hati seorang guru. Betapa mulianya sosok pahlawan yang tanpa meminta pundi pundi material dalam membagikan ilmu yang mereka miliki. Pembentuk generasi yang akan membawa bangsa ini menjadi hebat kedepannya, tentu amanah tersebut melekat pada seorang guru.

Semangat membara seorang guru yang takkan luntur dalam mendidik siswanya, terkadang ada sebuah penghargaan yang diberikan oleh kepada muridnya. Seorang guru yang dicintai oleh murid-muridnya adalah yang bisa memberikan penghargaan kepada murid-muridnya. Penghargaan yang dimaksudkan di sini tidak harus bermakna penghargaan yang berupa materi atau pemberian hadiah berupa barang. Penghargaan juga bisa diberikan hanya dengan kata-kata yang bermakna positif dan menyenangkan. Misalnya, pada saat seorang anak didik berhasil menyelesaikan pekerjaannya, seorang guru berkomentar, “Bagus sekali, ternyata kamu bisa menyelesaikannya dengan baik.” Sudah tentu, sang anak akan merasa senang karena apa yang telah dilakukannya mendapatkan penghargaan dari gurunya. 

Seperti pohon yang menjadi peneduh dan penopang, tak jera untuk berbuah meskipun diambil terus menerus. Guru menjadi penyejuk serta tempat untuk bersandar sama seperti orang tua kita. Sebuah lirik lagu sering dikumandangkan ketika perpisahan dan membuat air mata meleleh seketika “engkau sebagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tansa jasa”.

Engkau cahayaku, penerang jalanku.
Engkau sayapku, menerbangkanku meraih anganku.
Engkau semangatku, mendorongku untuk terus maju.
Engkau pahlawanku, terimakasih guruku.
(hudarasegar)